Dari Sahur ke Buka, Menjaga Ayat di Dada. ποΈ
Di Pondok Caruban, Ramadan tidak pernah terasa sepi. Setelah sahur yang berkah, ribuan suara bergema melantunkan ayat-ayat suci dalam program Tadarus Subuh Berjamaah. Udara pagi yang segar berpadu dengan merdunya lantunan Al-Qur'an, menciptakan harmoni yang membangkitkan semangat para santri untuk kembali mengulang hafalan baru. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan ritual penguatan memori, di mana setiap ayat yang dibaca bersama-sama seolah terpatri lebih dalam ke dalam relung hati.
Memasuki siang hari, saat dahaga mulai terasa, para santri tidak berhenti berjuang. Mereka mengisi waktu dengan kegiatan Sima'an' (saling menyimak hafalan) secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Di bawah bimbingan para ustadz, mereka saling menyimak dan membenarkan bacaan. Saat seperti inilah ujian kesabaran dan keikhlasan benar-benar diuji; menahan lapar dan haus sambil memastikan setiap ayat keluar dengan fasih dan benar, meyakini bahwa setiap tetes keringat dan rasa lelah adalah bagian dari investasi akhirat.
Menjelang sore, tradisi indah Riyadhah (latihan spiritual) singkat dilakukan. Para santri duduk tenang merenungi makna ayat-ayat yang mereka hafal, sambil berselawat dan berdoa memohon keberkahan waktu dan ilmu. Mereka diajarkan bahwa menjadi penghafal Al-Qur'an bukan hanya tentang kuantitas hafalan, tetapi juga tentang bagaimana ayat-ayat itu hidup dalam akhlak sehari-hari. Hingga tiba saatnya berbuka, rasa syukur meledak menjadi doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh haru, memohon agar Al-Qur'an menjadi penolong di dunia dan akhirat.
Saat azan Maghrib berkumandang, kebersamaan terasa begitu kuat. Meja-meja panjang dipenuhi dengan menu sederhana namun penuh berkah. Tradisi berbuka di pesantren ini selalu diawali dengan doa bersama dan saling menyuapi kurma, mengajarkan arti berbagi dan persaudaraan yang tulus. Tawa canda renyah para santri melepas penat, menceritakan setoran hafalan hari itu sambil menikmati takjil. Momen ini menjadi pengingat bahwa perjuangan menjaga Al-Qur'an tidak dilakukan sendirian, melainkan bersama keluarga besar yang saling menguatkan.
Malam harinya, pesantren berubah menjadi lautan cahaya iman. Shalat Tarawih dengan bacaan panjang nan merdu dari para santri senior menghiasi malam-malam Ramadan. Suasana semakin khusyuk saat mereka melanjutkan dengan Tahajjud dan Wiitir, diikuti dengan murojaah mandiri hingga larut. Mereka sadar, di malam yang sunyi inilah Allah Swt. dekat dengan hamba-hamba-Nya yang berjuang. Ramadan di Caruban adalah madrasah cinta sejati; cinta kepada Kalamullah yang dijaga di dada, dan cinta kepada Sang Pencipta yang diharapkan rida-Nya.
Memasuki siang hari, saat dahaga mulai terasa, para santri tidak berhenti berjuang. Mereka mengisi waktu dengan kegiatan Sima'an' (saling menyimak hafalan) secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Di bawah bimbingan para ustadz, mereka saling menyimak dan membenarkan bacaan. Saat seperti inilah ujian kesabaran dan keikhlasan benar-benar diuji; menahan lapar dan haus sambil memastikan setiap ayat keluar dengan fasih dan benar, meyakini bahwa setiap tetes keringat dan rasa lelah adalah bagian dari investasi akhirat.
Menjelang sore, tradisi indah Riyadhah (latihan spiritual) singkat dilakukan. Para santri duduk tenang merenungi makna ayat-ayat yang mereka hafal, sambil berselawat dan berdoa memohon keberkahan waktu dan ilmu. Mereka diajarkan bahwa menjadi penghafal Al-Qur'an bukan hanya tentang kuantitas hafalan, tetapi juga tentang bagaimana ayat-ayat itu hidup dalam akhlak sehari-hari. Hingga tiba saatnya berbuka, rasa syukur meledak menjadi doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh haru, memohon agar Al-Qur'an menjadi penolong di dunia dan akhirat.
Saat azan Maghrib berkumandang, kebersamaan terasa begitu kuat. Meja-meja panjang dipenuhi dengan menu sederhana namun penuh berkah. Tradisi berbuka di pesantren ini selalu diawali dengan doa bersama dan saling menyuapi kurma, mengajarkan arti berbagi dan persaudaraan yang tulus. Tawa canda renyah para santri melepas penat, menceritakan setoran hafalan hari itu sambil menikmati takjil. Momen ini menjadi pengingat bahwa perjuangan menjaga Al-Qur'an tidak dilakukan sendirian, melainkan bersama keluarga besar yang saling menguatkan.
Malam harinya, pesantren berubah menjadi lautan cahaya iman. Shalat Tarawih dengan bacaan panjang nan merdu dari para santri senior menghiasi malam-malam Ramadan. Suasana semakin khusyuk saat mereka melanjutkan dengan Tahajjud dan Wiitir, diikuti dengan murojaah mandiri hingga larut. Mereka sadar, di malam yang sunyi inilah Allah Swt. dekat dengan hamba-hamba-Nya yang berjuang. Ramadan di Caruban adalah madrasah cinta sejati; cinta kepada Kalamullah yang dijaga di dada, dan cinta kepada Sang Pencipta yang diharapkan rida-Nya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar