Nutrisi Ruhani di Hari Kedua. 🌙
Sore hari di Pondok selalu memiliki keistimewaan tersendiri, terlebih di hari kedua Ramadan ini. Mentari yang mulai condong ke barat seolah menjadi penanda bahwa sebentar lagi para santri akan menyambung kembali asa mereka dengan hidangan berbuka. Namun, sebelum tenggorokan disegarkan dengan air putih dan kurma, hati dan pikiran para penghafal Al-Qur'an ini lebih dulu disirami dengan ilmu. Kajian bersama Pak Tami' menjadi oase di tengah dahaga, mengingatkan bahwa tujuan utama berpuasa bukan sekadar menahan diri, tetapi meraih derajat takwa.
Pak Tami' hadir dengan gaya penyampaian yang khas dan penuh hikmah. Di dalam majelis yang sederhana, para santri duduk bersimpuh dengan mata berbinar, menyimak setiap untaian nasihat yang disampaikan. Beliau mengupas bagaimana Ramadan adalah madrasah terbaik untuk melatih kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan—nilai-nilai yang sangat dibutuhkan oleh para penjaga Al-Qur'an dalam perjalanan panjang mereka. Suasana syahdu pondok semakin memperkuat pesan yang disampaikan, membuat setiap kalimat terasa meresap hingga ke lubuk hati.
Saat kajian usai, semangat para santri terlihat membuncah. Waktu menunggu berbuka yang biasanya terasa panjang, kali ini berlalu begitu saja karena hati mereka telah terisi penuh dengan cahaya iman. Mereka saling berpandangan dan tersenyum, merasakan sebuah kepuasan batin yang tidak bisa digantikan oleh makanan atau minuman apa pun. Inilah "ngabuburit" versi santri Caruban—bukan sekadar menunggu waktu, tetapi mengisi penantian dengan sesuatu yang bernilai kekal.
Tiba saatnya azan Maghrib berkumandang, suaranya yang merdu berbaur dengan lantunan doa dan dzikir. Takbir dan tahmid bersahut-sahutan, menciptakan simfoni indah yang mengiringi momen berbuka. Air putih yang dingin, kurma manis, dan aneka hidangan sederhana terasa begitu nikmat karena dinikmati setelah seharian berjuang, terlebih setelah jiwa dan akal digembleng dengan ilmu. Kebersamaan menyantap hidangan dengan para guru dan teman seperjuangan menjadi kenangan indah yang akan selalu dirindukan.
Di malam harinya, setelah shalat berjamaah dan persiapan untuk esok hari, para santri merenungkan pesan-pesan dari kajian tadi. Mereka bertekad untuk menjadikan Ramadan ini sebagai momentum peningkatan kualitas hafalan dan akhlak. Doa-doa dipanjatkan, semoga Allah memberikan kekuatan untuk terus istiqomah di jalan ini. Hari kedua Ramadan di Caruban menjadi lembaran baru yang penuh warna, di mana nutrisi ruhani lebih diutamakan, dan setiap langkah kecil diisi dengan niat besar untuk meraih ridha-Nya.
Pak Tami' hadir dengan gaya penyampaian yang khas dan penuh hikmah. Di dalam majelis yang sederhana, para santri duduk bersimpuh dengan mata berbinar, menyimak setiap untaian nasihat yang disampaikan. Beliau mengupas bagaimana Ramadan adalah madrasah terbaik untuk melatih kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan—nilai-nilai yang sangat dibutuhkan oleh para penjaga Al-Qur'an dalam perjalanan panjang mereka. Suasana syahdu pondok semakin memperkuat pesan yang disampaikan, membuat setiap kalimat terasa meresap hingga ke lubuk hati.
Saat kajian usai, semangat para santri terlihat membuncah. Waktu menunggu berbuka yang biasanya terasa panjang, kali ini berlalu begitu saja karena hati mereka telah terisi penuh dengan cahaya iman. Mereka saling berpandangan dan tersenyum, merasakan sebuah kepuasan batin yang tidak bisa digantikan oleh makanan atau minuman apa pun. Inilah "ngabuburit" versi santri Caruban—bukan sekadar menunggu waktu, tetapi mengisi penantian dengan sesuatu yang bernilai kekal.
Tiba saatnya azan Maghrib berkumandang, suaranya yang merdu berbaur dengan lantunan doa dan dzikir. Takbir dan tahmid bersahut-sahutan, menciptakan simfoni indah yang mengiringi momen berbuka. Air putih yang dingin, kurma manis, dan aneka hidangan sederhana terasa begitu nikmat karena dinikmati setelah seharian berjuang, terlebih setelah jiwa dan akal digembleng dengan ilmu. Kebersamaan menyantap hidangan dengan para guru dan teman seperjuangan menjadi kenangan indah yang akan selalu dirindukan.
Di malam harinya, setelah shalat berjamaah dan persiapan untuk esok hari, para santri merenungkan pesan-pesan dari kajian tadi. Mereka bertekad untuk menjadikan Ramadan ini sebagai momentum peningkatan kualitas hafalan dan akhlak. Doa-doa dipanjatkan, semoga Allah memberikan kekuatan untuk terus istiqomah di jalan ini. Hari kedua Ramadan di Caruban menjadi lembaran baru yang penuh warna, di mana nutrisi ruhani lebih diutamakan, dan setiap langkah kecil diisi dengan niat besar untuk meraih ridha-Nya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar